Indonesia, ditilik dari jumlah penduduk dan jumlah terbitan buku per tahunnya, masing sangat jauh ketinggalan dari negara yang kini dikatagorikan maju. Jumlah buku baru per tahun berkisar 3 juta buah, dengan 1000 judul. Bandingkan dengan jumlah penduduk negeri ini yang hampir mencapai 200 juta orang. Berapa persen yang membaca perkembangan terbaru dari buku-buku?
Lebih memprihatinkan lagi bila ditinjau lebih mendalam, bahwa ternyata sebagian besar dari buku-buku yang terbitan baru itu merupakan karya terjemahan. Sebenarnya ini tidak terlalu jadi masalah, bila yang diterjemahkan juga buku-buku baru. Ternyata, sebagian merupakan buku terbitan lama, lebih lima tahun lalu.
Karena bagian terbesar dari 200 juta orang Indonesia itu ummat Islam, maka dapat disimpulkan bahwa peminat buku di kalangan kita juga cukup payah. Silakan dihitung sendiri, berapa judul buku kita tuntaskan baca dalam setahun terakhir? Jangan-jangan tidak se-judulpun!
Bila demikian, apakah kita juga bersedia menghitung, dikemanakan waktu kita di luar kesibukan rutin yang berhubungan dengan pekerjaan dan kewajiban kita kepada Allah --termasuk di dalamnya, bertadarrus al-Qur'an? Bila masih ada kesempatan untuk membaca majalah atau koran, masih lumayan. Tetapi jangan-jangan waktu kita hanya habis untuk menonton televisi, yang 90% isinya hanya hiburan.
Sudah saatnya kita sadar. Mari kita isi otak dan pikiran kita dengan segala sesuatu yang bermanfaat. Ingatlah kita, bahwa di antara yang menyebabkan prestasi anak sekolah menurun, adalah ketagihan mereka untuk menonton televisi. Porsi untuk berpikir bagi penonton layar kaca ini sangat sedikit. Informasi yang tersaji, sudah sangat jelas, baik bunyi, angka, warna, maupun bentuknya. Kapan pemirsa diajak untuk berpikir, setidaknya membayangkan dan menganalisa kemungkinan? Jangan-jangan kita jadi tambah bodoh dan manja, bila setiap hari menghadapi hal-hal demikian, seperti penikmat film kartun yang dicocok hal-hal tak rasionalpun mau saja menerima.
Ummat Islam, sekali lagi, sudah saatnya sadar. Mari kita isi hari-hari kita dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Baca al-Qur'an dan menelaahnya, jangan pernah dilupakan, dengan menyediakan waktu rutin yang jelas setiap hari. Inilah sumber spirit dan penyeimbang hati nurani kita. Kemudian, beri kesempatan otak untuk menambah pengetahuan yang terus berkembang. Telan informasi-informasi yang penting, sesuai dengan kondisi yang kita hadapi. Baru bila masih ada waktu sisa, bisa diisi dengan membaca informasi lain-lain. Jangan dibalik, yang pertama adalah mencari tahu kebenaran gosip pertunangan artis A dengan aktor B. Apa gunanya? Biar tak pernah tahu juga tidak akan pernah rugi sama sekali, dunia akhirat.
Minat ingin tahu itu barulah merupakan permulaan. Bila telah memasyarakat, barulah pengembangan di bidang-bidang lain -- yang kita juga ketinggalan-- bisa dilakukan. Jangan lupakan printah Allah, iqra'!