Beberapa tahun terakhir ini selalu kucari-cari arti BAHAGIA. Bagaimana sebenarnya rasa yang satu ini bisa dideskripsikan? Tidak dengan kecukupan materi, tidak dengan keramaian atau canda-ria yang membuat kita tersenyum atau tertawa. Rasa bahagia belum tentu dapat membuat senyum atau tawa kita nampak dari raut wajah, karena bisa jadi di balik senyum dan tawa kita sebenarnya jauh di lubuk hati yang terdalam kita BELUM BAHAGIA. Apakah penting sebuah KEBAHAGIAAN dalam hidup ini? Bolak-balik sudah kutelusuri makna rasa yang satu ini, ternyata semuanya itu tergantung diri kita sendiri bagaimana untuk mematri dalam jiwa suatu rasa yang abadi, tanpa syarat apa pun tanpa ketergantungan terhadap apa pun seperti materi yang cukup, kasih sayang yang berlimpah, teman dan saudara yang selalu perhatian terhadap kita, status sosial, kedudukan/jabatan, konsep diri positif dan sebagainya.
Suatu hari, ketika ungkapan bahwa diri ini tidak bahagia dikoreksi oleh seorang yang amat berpengaruh dalam hidupku ini. Beliau mengatakan bahwa aku ini adalah seorang yang mudah merasa tidak puas dengan apa yang kuperoleh. Astaghfirullaah Al'adziim ... sungguh tak kusangka ia akhirnya mencetuskan pendapatnya itu. Namun aku tak "berdiam fikir" karena keinginanku untuk mengintrospeksi diri demi perubahan yang jauh lebih baik. Ini adalah awal untuk mencapai kebahagiaan sejati, dan akhirnya memang kusadari bahwa aku adalah seorang pembosan, apa yang sudah kudapat cepat kubiarkan seperti hal yang tidak istimewa lagi, dan aku mau yang lebih lagi. Kadang sifat seperti ini ada baiknya jika bisa diarahkan untuk meraih prestasi. Mungkin aku harus berkarya lebih banyak lagi ... membuat sesuatu yang nyata dan berbentuk "sebuah benda" bukan hanya kreativitas yang menguap begitu saja karena tidak ada wujudnya (seperti mengasuh anak dan mengurus rumah).
Selama ini, masih banyak yang belum kulakukan. Mungkin jika aku lebih giat, lebih bisa menaklukkan waktu (bukan dikejar-kejar atau diperbudak waktu), akan banyak yang bisa kulakukan untuk lebih berkreasi dan berprestasi. Kegiatan seputar rumah tangga tidak akan membuatku seperti "katak dalam tempurung", jika aku bisa menyediakan waktu untuk diri sendiri dan mengejar impianku tentang menciptakan karya nyata. Apa lagi yang kucari dalam hidup ini? Hidup mapan (ditunjang suami), dianugrahi dua orang gadis cilik yang manis & lucu, serta orangtua yang masih hidup (meski tinggal Ibu dan Ibu mertua) yang selalu mendo'akan anaknya selalu berada di jalan yang benar. Alhamdulillaah, semoga dengan hidayah kesadaranku ini, aku akan bisa melahirkan perasaan BAHAGIA yang tulus dan abadi tanpa keraguan lagi. Aku tidak akan merasa "kesepian di tengah keramaian lagi", merasa "di balik senyum ada duka" atau merasa "haus kasih sayang" lagi, karena semua apa yang kita rasakan atau dapatkan adalah pantulan dari ekspresi diri sendiri. Harus dimulai dari diri sendiri (ahhh rasanya klise banget ya? tapi inilah kenyataan) ... Kita adalah apa yang kita fikirkan ... dan mulai saat ini aku akan mendeklarasikan bahwa aku adalah orang yang BAHAGIA (dan semoga bisa di dunia maupun akherat, amiin!). Selamat datang KEBAHAGIAAN !!!
For my Husband : You are always my Hero ...
February 22, 2008
Depok City