RaTuNe oMaH sing oRa nGanTor

Blog EntryBERKACA PADA NENEK (by imul)Jan 3, '06 6:54 AM
for everyone

 Note: Tulisan di bawah ini saya tulis 4 tahun yang lalu, di awal tahun 2002. Wah gak terasa waktu begitu cepat berlalu!

*****************************************************************

Bukan puisi bukan cerpen ... Hehe ...
Semoga bisa jadi renungan kita semua.

BERKACA PADA NENEK

Nenekku, sekitar 96 tahun usianya ...
Tubuhnya sudah agak bongkok, dan tingginya
hampir sama dengan keponakanku yang 7 tahun.
Pendengaran dan penglihatannya masih tajam, bahkan
untuk membaca Al-Qur'an pun tanpa kacamata.
Wajahnya masih memancarkan sisa-sisa kecantikan.
Imut-imut, mungkin waktu mudanya dulu.  Ahhh ...

Banyak pertanyaan yang berkelebat di benakku.
Seperti apakah Nenek dulu?  Siapakah dia?
Meskipun Shalatnya tak pernah lepas dan sangat
betah berlama-lama untuk dzikir dan do'anya setelah
Shalat, tapi yang kutahu ia hanya membaca Qur'an
sekedar mengalun tanpa tahu artinya.

Aku tak pernah merasakan kasih sayangnya seperti
yang kudapatkan dari Ibuku.  Usapan di kepala,
wejangan-wejangan dan juga teguran jika aku salah.
Nenekku seolah tak pernah pusing dengan apa pun.
Manis tergugu-gugu duduk di sofa sambil menonton
acara TV tapi tanpa komentar apa pun.

Makannya lahap dan banyak.  Kembali seperti anak kecil.
Jika dengar kabar prihatin saudara dari kampung halaman,
spontan jadi tak mau makan.  Ibuku pusing tujuh keliling.
Kebahagiaan baginya adalah ... kehidupan yang mulus
bagi anak-anak kandungnya yang jumlahnya kian sedikit
karena mendahuluinya ke alam Baqa.  Total 16 kali ia
melahirkan, tanpa operasi!  Ohh ... tidaaak.

Aku pernah bertanya pada Ibuku tentang mengapa Nenek
kelihatannya sangat tak acuh padaku?  Ia lebih sayang pada
si Oneng, sepupuku di Garut yang memang berkulit kuning
itu.  Sampai-sampai cucu-cucu nenek yang lainnya cemburu.
Ibuku hanya menjawab, "Nenek makin sayang pada yang menderita".

Jadi aku dianggapnya "tidak menderita" ?  Ahh, Nenek ...
Syukurlah kalau Nenek menganggap demikian, tapi aku masih
penasaran dengan Nenek.  Haus kasih sayangnya ... tapi tetap
saja kurasa hambar.  Garing.  Basa-basi ...  Yah, biarlah.
Aku tetap sayang Nenek.  'Kan ada Ibuku yang sangat sayang
pada putri kecilnya ini (sampai usia berapa pun).  Semoga ia
juga akan berumur panjang seperti Nenekku, tanpa pikun (Amiin).

Kadang aku heran pada Nenek.  Mengapa ia tidak kaya?  Padahal
kalau mau, bisa saja ia menumpuk harta yang dikumpulkan dari
anak-anak dan cucu-cucunya.  Nenekku ini cenderung pas-pasan
jika hidup di kampung, di rumahnya sendiri.  Setiap kali ia
pulang ke gubuk reotnya, selalu membagi-bagikan oleh-oleh bagi
sanak-saudara dan tetangga ... sampai ia sendiri tak punya lagi
apa-apa karena semuanya sudah dibagi-bagi.  Dermawan atau gengsi?

Aku bingung pada Nenekku, sifatnya mungkin seperti Nabi Muhammad
SAW.  Tapi aku kadang khawatir jangan-jangan itu Riya?  Hmmm ...
Ya Allah, semoga Kau ampuni kekeliruan Nenek.  Yang kutahu dari
Ibuku adalah ... Nenek telah terbiasa memberi sejak masa mudanya.
Hingga kini seolah memaksakan, padahal kondisinya prihatin.  Ia kini
bukan lagi anak Wedana di desa pada jaman Belanda dulu.  Ia hanya
seorang Ibu dari anak-anak yang sederhana di kota besar.  Tidak
ada yang hebat, terkenal, apalagi jadi pejabat pemerintah. Entah
nanti cucunya apakah ada yang akan jadi orang sukses (???).

Berkaca pada Nenek ...
Aku jadi menerawang ...
Jadi siapakah aku kelak ...
Jadi istri siapakah aku ini ...
Jadi Ibu seperti apakah aku nanti ...
Jadi Nenek yang bagaimanakah aku ...
Jadi Nenek sampai usia berapakah aku ...
Pikunkah aku ketika jadi Nenek?
Aaaahhh ... cukup mengerikan!
Semoga Allah SWT memberikan yang terbaik,
Kumohon "Husnul Khotimah".  Amiiin.
Berkaca pada Nenek ...
Semuanya masih misteri.

Catatan Awal Tahun
~ by imul ~
Jakarta, 6 Januari 2002


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help