Di penghujung tahun 2005 ...
Banyak yang terjadi ... sejak jurnal terakhir yang kuposting di MP ini, namun rasanya enggan menuliskannya. Hari demi hari yang kulalui lebih banyak di rumah, mengurus anak dan melakukan pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Bersih-bersih, memungut-melipat-menata tanpa henti agar rumah tidak kelihatan seperti kapal pecah, mencuci-menjemur-menyetrika pakaian, menyapu-mengepel lantai, mencuci piring-memasak, menyiram tanaman, dan lain sebagainya (belum termasuk memandikan, membuat susu & makanan, menyuapi & mengeloni, mendongengi serta mengajak main & belajar anak). Untuk suami? Yah, ini yang paling penting harus diutamakan. Namun akibat idealisme seorang istri yang berlebihan dalam mengurus rumah tangga, teori tinggal teori ... Suami kadang malah lebih banyak mengalah & bersabar melihat istrinya yang sudah letih dalam sehari mengurus semuanya -- Ini akibat tidak punya pembantu!
Sejak usai Lebaran kemarin, saya memutuskan untuk tidak menggunakan jasa pembantu rumah tangga (bahasa Arabnya Khodimat, kali ya?) ... Yang terakhir bekerja sudah saya suruh untuk tidak kembali lagi karena kurang cocok & suamiku juga setuju untuk tidak mempekerjakannya lagi . Ya akhirnya "klenger" juga mengerjakan semuanya yang kebanyakan harus "manual" (tetap harus menjemur meski mencuci dengan mesin cuci, cuci piring pakai tangan karena di Indonesia belum biasa pakai mesin pencuci piring, membersihkan lantai repot 2X yaitu menyapu dulu lalu dipel bukan cuma pakai vacuum cleaner, lalu ... menyetrika ... ini dia yang paling malas!). Oh rasanya bukan main bikin badan pegal-pegal di hari-hari pertama. Belum lagi harus berkutat dengan bermacam-macam laci, dari laci yang paling kecil sampai yang paling besar di dalam rumah. Semua harus berada pada tempatnya yang sesuai.
Sejak awal menikah saya memang susah soal pembantu, ada saja alasan hingga mereka sering saya berhentikan meski baru beberapa bulan kerja. Setelah berkali-kali ganti pembantu, akhirnya belakangan saya pikir lebih baik mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sendiri saja ... toh ada banyak teman-teman MP yang tinggal di negeri orang juga tanpa ada yang membantu karena gajinya tinggi sekali. Namun bedanya, kalau pekerjaan rumah tangga di luar negeri kebanyakan dilakukan dengan menggunakan peralatan elektronik yang macam-macam fungsinya dan di samping itu juga pasti sang suami rajin ikut bekerja sama melakukan kegiatan dalam rangka bersih-bersih rumah dan sebagainya (barangkali lho ...). Nah ... kebetulan, suami saya ini termasuk yang tidak ikut turun tangan masalah pekerjaan rumah tangga. So ... gimana gak "klenger" saya?
Akhirnya, sejak tgl 8 Desember yang lalu ... saya menyerah! Ada seorang "mPok" yang bersedia membantu saya setengah hari, dari jam 7 pagi s/d 12 siang. Yah lumayanlah karena mencuci-menjemur-menyetrika pakaian beliau yang mengerjakan, juga menyapu-mengepel lantai, mencuci piring juga sekali-sekali. Paling tidak bebanku berkurang cukup banyak. Anak jadi lebih banyak diberi perhatian, apalagi saat ini putri kecilku yang berusia 2 tahun 2 bulan sedang aktif-aktifnya berlari, melompat ke sana ke mari ... apa saja dipegang, bahkan yang letaknya tinggi bisa diambil dengan cara memanjat kursi makan yang digesernya terlebih dulu! Ampun capek sekali memantaunya ... Kadang kecelakaan yang mengintai anak di dalam rumah pun membuat saya was-was. Beberapa waktu yang lalu anak saya tersemprot parfum mata kirinya hingga menangis "kejer" sekali, itu terjadi ketika saya sedang menerima telepon dari eyangnya. Padahal botol parfum sudah diletakkan di tempat yang tinggi tapi dia bisa memanjat.
Sekitar setahun yang lalu, anak saya juga mengalami kecelakaan "kecil" yang berdampak sampai sekarang yaitu gigi depan kanannya "somplak" karena jatuh tertelungkup di teras rumah. Untung masih gigi susu, jadi meski masih lama tanggal dan diganti dengan gigi permanen tapi masih ada harapan agar giginya jadi bagus lagi. Wah, pokoknya belakangan ini saya jadi paranoid dengan kecelakaan di dalam rumah. Apalagi belum lama juga suami cerita kalau ada anak temannya yang tersiram minyak goreng panas oleh sang Ibu. Dulu juga sepupu saya pernah kemasukan biji jagung di telinganya, ada keponakan yang menelan uang, "burungnya" terjepit di pagar dan lain-lain sebagainya (masih banyak lagi cerita ... ada yang mau nambahin? Sharing boleh dong!).
Kini menyimpan benda-benda kecil seperti peniti, jarum, klip, paku dll benar-benar harus teliti. Harus kita cermati di LACI mana benda-benda itu harus kita simpan, dan bagaimana me-"minimize" kemungkinan anak kita dapat meraihnya. LACI demi LACI, begitu penting bagi saya saat ini. Padahal dulu sebelum saya menikah, hal ini tak terlalu penting ... yah mungkin karena belum merasakan punya anak sendiri (meski keponakan banyak, tapi yang paling tanggung jawab kan Ibu mereka sendiri?).
Sudah tentu, yang bisa kita lakukan hanyalah pasrah, berserah diri pada Allah & berdo'a agar hal-hal yang tidak diinginkan menimpa anak-anak kita dan seluruh anggota keluarga di dalam rumah. Saat ini, yang saya pikirkan adalah bagaimana caranya agar saya mendapat seorang Khodimat lagi yang dapat menjadi teman selain membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, karena seorang diri mengurus anak dan sebagainya sangat tidak mudah. Salut sekali buat teman-teman MP yang berada di mancanegara ... begitu tegar dan sabar menjalani hari-hari yang penuh dengan kesibukan menata benda dan juga "makhluk hidup terindah" yang kita miliki yaitu anak-anak dan suami kita.
Mumpung saya tidak tinggal di luar negeri, dan budaya di Indonesia masih kental dengan adanya Pembantu Rumah Tangga ... Insya Allah saya akan mengajak tinggal bersama lagi seorang Khodimat (PRT itu) lagi alias yang menginap di rumah. Kalau si "mPok" yang pulang setengah hari itu masih mau bekerja untuk saya ya Alhamdulillah ... tapi gawatnya saya harus memberi gaji ekstra (lebih besar dari biasanya ketika hanya dgn seorang PRT), dan ... saya ... kerjaannya apa dong di rumah? Yah ... lebih baik dipikirkan nanti ...
Semoga lebih banyak manfaatnya dibandingkan mudharatnya, amiiin! Selamat Tahun Baru 2006 buat semua teman MP!