RaTuNe oMaH sing oRa nGanTor

Blog EntryPRIA MATANG (by imul)Sep 16, '05 2:13 PM
for everyone

Aku teringat akan celotehan seorang keponakanku di Yogyakarta, waktu itu ia mengemukakan bahwa ia mengagumi dosennya yang -- kira-kira seperti ini -- ganteng, pintar & wibawa. Secara keseluruhan, ia menyukai pria yang "matang" karena usianya yang jauh lebih tua. Dalam hati, aku mempertanyakan apakah seorang pria bisa dikatakan "matang" karena usianya?

Pada kesempatan lain, kusimak lagi keceriwisannya pada sepupunya yang juga sudah gadis -- pasca remaja pra dewasa -- yang memancing opini tentang kriteria pria idaman. Ia bertanya, "Ayo ... Sesha, kamu pilih calon suami yang seperti siapa, seperti Pakpuh / Pakdhe Rifai, Om Yunan, Pakdhe Amin, Om Rudi, Om Mukti, Om Yanwar/Nano atau om Robit (yang terakhir ini adalah suamiku) ..."   Duuuhhh, Upiek, ponakanku yang Ayu ... sudahkah kamu menemukan pria idaman saat ini? Mudah-mudahan tidak terlalu mematok target atau kriteria, karena jodoh itu tidak bisa diatur, siapa tahu kriteria yang kita harapkan tidak ada dalam diri "sang jodoh" yang sudah ditentukan oleh Allah SWT.

Mengenai "Pria Matang" ... seperti apa ya? Duh, hati-hati kamu Piek, jangan dekat-dekat sama yang "tua-tua" kecuali Papa & Om-Pakdhe kamu lho ... salah-salah nanti jadi selingkuhan? Rasanya kematangan pria itu tidak harus diukur dari usianya, tapi latar belakang pendidikan, lingkungan keluarga + pergaulan (teman-teman, sahabat, organisasi, dsb) dan pengalaman hidup ... baik pengalaman pribadi atau orang lain. Jangankan yang seusia, bisa jadi yang lebih muda dari kita ... jauh lebih "matang" dari yang dibayangkan. So, apa salahnya "daun muda"?

Yang penting tanggung jawab, jantan, dan takut pada Allah. Selebihnya ... bisa di-fleksible-in kriterianya seperti apa ... Kamu tau sendiri kan Om-mu seperti apa? Wah, begini :  lho! Sayang banget sama anak, bahkan kadang tantemu ini sampai merasa beliau lebih cinta sama anak dibandingkan istrinya ... tapi gak papa lah ... Apalagi beliau tante segani & beliau bukan termasuk anggota ISTI alias Ikatan Suami Takut Istri. Hehehe ... Alhamdulillaah, tante ketemu Om di saat kami berdua sudah sama-sama berorientasi "menikah tanpa pacaran", and so far so good lah ... sampai saat ini rumah tangga kami baik-baik aajjaaa ...

Buat Upiek di Yogya ... semoga gak terlalu "matok" kriteria pria idamannya. Pasrah aja ...

Ngomong-ngomong, soal Pria Matang, masih penasaran nih ...

Seperti apa ya ... Ada yang bisa menambahkan? Please dech ...


himma wrote on Sep 16, '05
robida said
Jangankan yang seusia, bisa jadi yang lebih muda dari kita ... jauh lebih "matang" dari yang dibayangkan. So, apa salahnya "daun muda"?
tepat sekali.menurut saya latar belakang keluarga dan pengalaman hidup sangat mempengaruhi kematangan seseorg.
solihin wrote on Sep 16, '05, edited on Sep 16, '05
robida said
Alhamdulillaah, tante ketemu Om di saat kami berdua sudah sama-sama berorientasi "menikah tanpa pacaran", and so far so good lah ... sampai saat ini rumah tangga kami baik-baik aajjaaa ...
Numpang tanya bu. Kalau menikah tanpa pacaran itu maksudnya dijodohkan orang tua ya . Lalu, bagaimana kalau ternyata jodohnya tidak saling cocok (karena biasanya sebelumnya tidak saling kenal). Terima kasih, dan selamat atas kebahagiaan ibu.
robida wrote on Sep 22, '05, edited on Sep 22, '05
himma said
tepat sekali.menurut saya latar belakang keluarga dan pengalaman hidup sangat mempengaruhi kematangan seseorg.
Makasih komentarnya mBak Yuni, so pasti mBak juga sudah berpengalaman ... :) Maksudnya Asam-Garam Kehidupannya sudah banyak ... Mengenai suami yang lebih muda, banyak ya contohnya? Dari saudara/teman kita sampai para artis &
Alhamdulillaah banyak yang langgeng + harmonis!
robida wrote on Sep 22, '05, edited on Sep 22, '05
solihin said
Numpang tanya bu. Kalau menikah tanpa pacaran itu maksudnya dijodohkan orang tua ya . Lalu, bagaimana kalau ternyata jodohnya tidak saling cocok (karena biasanya sebelumnya tidak saling kenal). Terima kasih, dan selamat atas kebahagiaan ibu.
Aduh Alhamdulillaah saya dikasih selamat atas kebahagiaan ... Amiin! Trims ya? Menikah tanpa pacaran tidak harus dijodohkan dengan ortu lho ... bisa kita usaha sendiri atau dibantu teman (bukankah saat ini medianya sangat menunjang, contoh: internet yang memungkinkan sekali melakukan kontak/komunikasi tanpa bertemu sebelumnya dengan teman online ... ya salah satunya MULTIPLY ini juga?). Kalau sudah waktunya, pasti akan ada petunjuk dari Allah SWT siapa jodoh kita yang sebenarnya. Tidak usah ditunggu, dicari atau dikejar ... karena sekonyong-konyong akan datang sendiri. Sementara menunggu, kita bisa melakukan kegiatan lain yang positif ... dan terus improve diri kita ... sehingga siapa tahu ternyata usaha kita itu yang mengantar ke pertemuan dengan sang jodoh itu. Mengenai restu ortu, tetap harus diutamakan, sebelum nikah pasti minta ijin dulu dan dikenalkan calon kita itu. Untuk menghindari kekecewaan calon pasangan jika ternyata tidak "berjodoh", ada baiknya sebelum memilih ... perhatikan betul kriteria yang kira2 Insya Allah akan disetujui sama ortu (disamping kriteria idaman kita). Begitu ya kira2? Hehehe ... Sebenernya saya sendiri, dulu sempat gelisah menanti calon suami yang akan menyunting saya ... dari target nikah 20, gak jadi ... terus nambah 23 ... dst ... akhirnya nikah juga pas usia 26 ... Alhamdulillaah, patut disyukuri meski meleset dari target yang sudah-sudah, yang penting semua itu tak luput dari ikhtiar/usaha.

Menjawab pertanyaan : Untuk meminimize ketidakcocokan, tentunya dalam usaha mencari calon pasangan yang tepat ada perkenalan & pendekatan. Pertama kali berkenalan, apanya yang membuat kita tertarik? Mungkin saja karena adanya kesamaan dalam hobi, minat, sifat dll. Setelah berkenalan, pendekatan dilakukan untuk menggali lebih dalam lagi kepribadian & latar belakang keluarga. Berteman saja dulu ... siapa tahu seseorang yang kita "gandrungi" pun ternyata bukan jodoh. Jangan janji-janji dulu, tapi buat kesepakatan "penjajakan" dilakukan dengan segala kemungkinan : lanjut atau tidak lanjut. Jadi ... supaya prosentase kecocokan lebih tinggi daripada ketidakcocokannya, memang dibutuhkan waktu untuk membuktikan & bantuan pihak lain juga ada baiknya untuk memberikan informasi sesungguhnya. Penting juga bagi kedua pihak yang sedang pendekatan (ta'aruf) menjunjung tinggi nilai kejujuran (jadi apa adanya ... tanpa kepalsuan). Kalau dijodohkan/dicomblangi dengan teman/saudara, biasanya ada informasi banyak tentang sang calon hingga bisa lebih memudahkan dalam pendekatan. Intinya : pilihlah yang memiliki paling banyak persamaan dengan kita, dan paling sedikit perbedaan/kesenjangan dalam segala hal dengan kita. Akhir kata, semua itu ... tergantung Yang Di Atas juga ya ... makanya selain berikhtiar, kita juga harus meminta pada-Nya agar mendapat jodoh yang sesuai dan tidak terlalu mengejutkan (bertentangan) dengan yang kita harapkan apabila melalui proses perkenalan & pendekatan yang singkat. Harus modal : siap mental, pasrah & yakin. Bismillaah aja ... tapi jangan asal pilih juga!
islammuna wrote on Dec 9, '05
robida said
Ngomong-ngomong, soal Pria Matang, masih penasaran nih ...
terkadang kita terpancing kematangan seseorang itu dipengarui oleh usia, padahal gak 100% begitu, emang sih usia seseorang bisa menunjang kematangan seseorang karena sisi pengalamannya yang lebih banyak dari yang dibawahnya meskipun gak mutlaq. yang sebenarnya (just pendapat ya mbak) yang tahu hak dan kewajibannya baik dalam frime kehidupan rumah tangganya, masyarakatnya dan agamanya, apalagi dalam rumah tangganya, kewajiban dia untuk mendidik istri dan anak-anaknya, kata Allah: "jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". karena posisi suami dalam rumah tangga adalah pemimpin. dan pemimpin sangat berpengaruh sekali terhadap yang dipimpin.
robida wrote on Dec 14, '05
terkadang kita terpancing kematangan seseorang itu dipengarui oleh usia, padahal gak 100% begitu, emang sih usia seseorang bisa menunjang kematangan seseorang karena sisi pengalamannya yang lebih banyak dari yang dibawahnya meskipun gak mutlaq. yang sebenarnya (just pendapat ya mbak) yang tahu hak dan kewajibannya baik dalam frime kehidupan rumah tangganya, masyarakatnya dan agamanya, apalagi dalam rumah tangganya, kewajiban dia untuk mendidik istri dan anak-anaknya, kata Allah: "jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". karena posisi suami dalam rumah tangga adalah pemimpin. dan pemimpin sangat berpengaruh sekali terhadap yang dipimpin.
Ya ... setuju ... Makasih, salam kenal ya?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help