Hari itu, pada tanggal yang ingin kubuat menjadi "bersejarah" dalam hidupku ... ternyata tidak ada yang istimewa ... sama sekali! Meski pagi hari lewat sang buah hati kami yang kuajari untuk mengucapkan "Selamat Ulang Tahun Pernikahan ... Bapak!" cukup membuatnya surprise, setelah itu tidak ada apa-apa lagi. Tidak seperti istri lain yang mendapat hadiah khusus berupa benda kesukaan, atau perhiasan yang menjadi kenangan / peringatan hari bahagia, atau jalan-jalan berdua tanpa "buntut" atau urusan keluarga & kantor, aku tidak dapat kado apa pun. Bahkan suamiku sempat lupa dengan hari itu, katanya, "Oh September ya? Bukannya Oktober?" Rupanya ia mengingat tanggal di bulan Oktober yang sebenarnya adalah acara "Ngunduh Mantu" di kampung halamannya Klaten, sedangkan hari pernikahan kami yang orisinil adalah pada bulan September di Jakarta.
Karena kenyataan tak seindah yang kubayangkan, akhirnya iseng-iseng kukirim sms untuk suamiku yang isinya menyatakan protes : kenapa ia sama sekali tidak menganggap istimewa ulang tahun pernikahan kami yang ke-3 itu. Lalu dibalasnya sms dariku, katanya, "Kan tau sendiri aku orangnya gimana? Kalo emang pingin, ya bilang dong, mau ke mana? Menurutku sih nomor 1 esensinya isi di e-mail kita itu, kalo perayaan dan hadiah mah ...bisa kapan aja."
Membaca sms itu aku pun mengerti, dan kubalas lagi yang isinya menyatakan aku belum baca isi e-mail darinya dan akan segera kubuka! Namun apa yang kulihat di layar monitor komputer kami? Hanya sebaris kalimat yang isinya : Sama-sama, semoga kita ... dst ... yang intinya kalimat tersebut adalah balasan e-mailku yang berisi ucapan "Selamat Ulang Tahun Pernikahan yang ke-3, semoga kita langgeng & tambah harmonis serta menjadi suami/istri yang sholeh/sholehah ... amiin." Aku hanya melongo membacanya, duh suamiku ... Aku sudah membayangkan kira-kira apa yang akan ditulisnya dalam e-mail ... kata-kata cinta, ungkapan kasih sayang dsb ... eh ternyata cuma sebaris kalimat yang formil. Yo wis lah, my darling, honey, sweatheart ... ! Emang dasar gak romantis, gak bisa dipaksa-in.
Depok, 16 September 2005
