RaTuNe oMaH sing oRa nGanTor

Blog EntryDilarang Mencintai Bunga-bungaJul 25, '05 9:42 AM
for everyone

Dilarang Mencintai Bunga-bunga
     (Cerpen Kuntowijoyo)

Diceritakan kembali oleh: imul
========================================

Berkisah tentang pergolakan bathin
seorang anak laki-laki pra remaja,
yang mengalami kebingungan terhadap
pilihan untuk menentukan jati dirinya.

Sebuah keluarga kecil yang terdiri dari
Ayah, Ibu, dan seorang anak yang masih
duduk di bangku SD, meninggalkan kampung
halaman mereka untuk hijrah ke kota besar
dengan harapan memperoleh kehidupan yang
lebih baik (secara materi).

Sang Ayah, tipe pekerja keras. Ia bekerja
di bengkel dari pagi hingga petang dengan
bersemangat, dan mengajarkan pada sang anak
menjadi laki-laki yang mengandalkan fisik
dan ototnya untuk menghasilkan uang.

Sang Ibu, tipe penyabar dan penyayang. Ia
seorang Ibu rumah tangga yang menjalankan
tugas sebagai seorang istri sekaligus Ibu
dengan penuh pengertian.  Sang anak tidak
pernah lepas dari pantauannya untuk pergi
mengaji dan menjalankan shalat wajibnya.

Di lingkungan rumahnya yang baru, sang anak
menjalani adaptasi dengan teman-teman sebaya-
nya.  Pada suatu hari, ia mendapat informasi
tentang seorang Kakek yang letak rumahnya ti-
dak jauh dari rumahnya.  Kakek itu tinggal
sendirian dan menutup diri dari sosialisasi.
Para tetangga menjauhinya, dan anak-anak di
lingkungan itu sangat takut padanya.

Misteri si Kakek terungkap oleh sang anak.
Berawal dari keberaniannya menghampiri rumah
si Kakek untuk mengambil tas yang tersangkut
di pagar (sebelumnya ia lari tunggang-langgang
diajak teman-temannya saat suatu hari Kakek
itu muncul dari dalam rumahnya).

Sang anak sangat heran, karena ternyata si
Kakek tidak seperti yang digambarkan oleh
semua orang.  Bahkan ia sangat lembut dan
perasa. Kakek itu memelihara bunga-bunga
beraneka warna dan bermacam-macam jenis.
Ia mengajarkan arti keindahan pada si anak.
Kedamaian didapatinya dari menikmati indah-
nya bunga-bunga sambil merenung. Kakek itu
juga pandai bercerita dan membuat puisi.

Karena merasa terbuai, anak itu menyempatkan
diri mampir ke rumah si Kakek setiap petang.
Sepulangnya dari sana, ia membawa segenggam
bunga yang indah-indah lalu dipajangnya di
meja belajarnya dalam sebuah jambangan. Sang
Ibu menjadi senang karena sudah beberapa hari
terakhir kamar anak itu menjadi sangat rapi.

Si anak jadi betah di rumah, menyendiri di
kamarnya untuk merenung dan menulis puisi.
Ketika sang Ayah mengetahui hal yang aneh
(menurut beliau) terjadi pada anak itu ...
ia menjadi marah. Dengan keras ia menekankan
pada anaknya bahwa sebagai laki-laki harus
sering berada di luar dan melakukan hal-hal
yang kasar, bukannya menjadi "orang rumahan"
yang lemah-lembut bahkan cengeng.

Shock dialami anak itu saat Ayahnya membanting
jambangan berisi bunga dari kamarnya, bahkan
membuangnya ke tempat sampah. Ia menangis, dan
merasa benci pada sang Ayah. Ia menjadi muak
melihat adegan Ayah menyentuh dagu sang Ibu
dengan tangannya yang kotor "belepotan" oli
dari bengkelnya, sementara Ibu menyambutnya
dengan manis sambil tersipu-sipu.

Bagaimana mungkin Ibunya yang "shalehah" itu
bisa bahagia mendampingi Ayahnya yang kotor
fisiknya dan (mungkin) meninggalkan shalat?
Yang diajarkan Ayah hanyalah "gila kerja"
untuk mendapatkan uang agar dapat hidup
layak. Sedangkan hal-hal yang menentramkan
tidak diajarkan oleh Ayahnya (melainkan Ibu).

Ibunya mengajarkan tidak meninggalkan shalat
dan juga mengaji. Ibu juga menunjukkan sifat
yang sangat terpuji dengan segala pengertian
dan kelembutannya.  Bahkan ketika sang anak
mulai mengemukakan pemikirannya tentang hal
yang menyangkut Ayahnya, sang Ibu justru
menangis dan menghardiknya. Ia tambah shock.

Akhirnya ia merenung. Antara Ayah, Ibu, dan
sang Kakek dengan bunga-bunga indahnya itu.
Kakek itu memang memiliki kedamaian, tetapi
ia tidak punya siapa-siapa. Sendirian! Hanya
bunga-bunga yang menjadi temannya. Sedangkan
ia memiliki dua orangtua yang berbeda sifat
namun sangat menyayanginya. Ayah berpredikat
"workoholik" dan Ibu yang "shalehah".

Pencarian jati dirinya berkecamuk dan sosok
ketiga orang yang disayanginya itu menjadi
"percontohan" bagi konsep dirinya. Akhirnya
anak itu hanya bisa menyadari siapa mereka.
Bagaimanapun, mereka itu adalah orangtuaku
yang telah melahirkan aku (pikir anak itu).
Sedangkan si Kakek bukan siapa-siapa.

=================== selesai =================

Jakarta, 26 Juli 2002

Wassalam
~ i.m ~


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help